Transformasi, Proses dan Penyebab Konflik

Transformasi, Proses dan Penyebab Konflik

Transformasi, Proses dan Penyebab Konflik

Transformasi Konflik

Fisher et al (2001: 7) menggunakan istilah transformasi konflik secara lebih umum untuk menggambarkan situasi secara keseluruhan, yaitu:

  • Pencegahan konflik ditujukan untuk mencegah konflik kekerasan
  • Resolusi konflik bertujuan untuk mengakhiri perilaku kekerasan melalui kesepakatan damai.
  • Manajemen konflik bertujuan untuk membatasi dan menghindari kekerasan dengan mendorong perubahan perilaku positif bagi mereka yang terlibat.
  • Resolusi konflik, berurusan dengan penyebab konflik dan mencoba membangun hubungan baru dan langgeng antara kelompok-kelompok yang bermusuhan.
  • Transformasi konflik, yang membahas sumber-sumber konflik sosial dan politik yang lebih luas dan berupaya mengubah kekuatan negatif perang menjadi kekuatan sosial dan politik yang positif.
  • Fase-fase di atas merupakan bagian penting yang harus dilakukan dalam resolusi konflik. Setiap fase mencakup fase sebelumnya, misalnya manajemen konflik mencakup pencegahan dan penyelesaian konflik.

 

Proses Manajemen Konflik

Sedangkan Minnerery (1980: 220) mengatakan bahwa manajemen konflik adalah sebuah proses, perencanaan juga merupakan sebuah proses. Minnerery (1980:220) juga berpendapat bahwa proses perencanaan manajemen konflik merupakan bagian yang rasional dan iteratif, artinya pendekatan model manajemen konflik perencanaan terus disempurnakan hingga sampai pada model yang representatif dan ideal.

Mirip dengan proses manajemen konflik yang dijelaskan di atas, perencanaan manajemen konflik terdiri dari beberapa langkah, yaitu: menerima adanya konflik (menghindari atau menekan / menyembunyikan), menjelaskan karakteristik dan struktur konflik, mengevaluasi konflik (jika masuk akal). , kemudian beralih ke proses berikutnya), menentukan tindakan yang diperlukan untuk menyelesaikan konflik, dan menentukan peran perencana sebagai peserta atau pihak ketiga dalam menyelesaikan konflik.

Keseluruhan proses tersebut berlangsung dalam kerangka perencanaan dan melibatkan perencana sebagai aktor pengendali konflik, baik sebagai partisipan maupun sebagai pihak ketiga.

 

Teori Penyebab Konflik

  • Teori hubungan masyarakat. Asumsikan bahwa konflik disebabkan oleh polarisasi yang terus-menerus, ketidakpercayaan dan permusuhan antara kelompok-kelompok yang berbeda dalam suatu masyarakat. Tujuan: Meningkatkan komunikasi dan saling pengertian antar kelompok yang mengalami konflik, serta pencarian toleransi dan agar masyarakat lebih menerima keragaman yang ada di dalamnya.
  • Teori kebutuhan manusia. Misalkan konflik yang mengakar disebabkan oleh kebutuhan dasar manusia (fisik, mental, dan sosial) yang tidak tercukupi atau terhalang. Hal-hal yang sering menjadi fokus pembicaraan adalah keamanan, identitas, pengakuan, partisipasi dan otonomi. Tujuan: Untuk mengidentifikasi dan mengatasi kebutuhan mereka yang belum terpenuhi dan menghasilkan pilihan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
  • Prinsip-prinsip teori tawar-menawar. Asumsikan bahwa konflik disebabkan oleh pandangan yang tidak dapat didamaikan dan perbedaan pandangan tentang konflik antara pihak-pihak yang berkonflik. Tujuan: Untuk membantu pihak-pihak yang berkonflik memisahkan perasaan pribadi dari isu-isu dan isu-isu yang berbeda dan memungkinkan mereka untuk bernegosiasi berdasarkan kepentingan mereka daripada posisi tetap tertentu. Kemudian mulailah proses kesepakatan yang akan menguntungkan kedua belah pihak atau semua pihak.
  • Teori identitas. Misalkan konflik disebabkan oleh identitas yang terancam, yang seringkali berakar pada hilangnya sesuatu atau penderitaan yang belum terselesaikan di masa lalu. Tujuan: melalui fasilitas lokakarya dan dialog antara pihak-pihak yang bertikai untuk mengenali ancaman dan ketakutan di antara pihak-pihak tersebut dan untuk membangun empati dan rekonsiliasi di antara mereka.
  • Teori kesalahpahaman antarbudaya. Asumsikan bahwa konflik disebabkan oleh ketidakcocokan jalur komunikasi antara budaya yang berbeda. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan pihak-pihak yang berkonflik tentang budaya pihak lain, meruntuhkan stereotip negatif tentang pihak lain, meningkatkan efektivitas komunikasi antarbudaya.
  • Teori transformasi konflik. Misalkan konflik disebabkan oleh masalah ketimpangan dan ketidakadilan, yang muncul sebagai masalah sosial, budaya dan ekonomi.

Penyebab Konflik

Konflik hanya dapat muncul karena salah satu pihak memiliki ambisi yang tinggi, karena sulitnya mencari alternatif yang integratif. Jika jenis konflik ini terjadi, itu akan semakin dalam ketika pengejaran Anda sendiri atau orang lain kaku dan gigih.

Aspirasi dapat mengakibatkan konflik karena salah satu dari dua alasan, yaitu masing-masing pihak memiliki alasan untuk percaya bahwa mereka mampu mendapatkan sebuah objek bernilai untuk diri mereka sendiri atau mereka percaya bahwa berhak memeiliki objek tersebut. Pertimbangan pertama bersifat realistis, sedangkan pertimbangan kedua bersifat idealis.

  1. Faktor Manusia:Ditimbulkan oleh atasan, terutama karena gaya kepemimpinannya, Personil yang mempertahankan peraturan-peraturan secara kaku, dan timbul karena ciri-ciri kepriba-dian individual, antara lain sikap egoistis, temperamental, sikap fanatik, dan sikap otoriter.
  2. Faktor Organisasi
  • Persaingan dalam menggunakan sumberdaya. Apabila sumberdaya baik berupa uang, material, atau sarana lainnya terbatas atau dibatasi, maka dapat timbul persaingan dalam penggunaannya. Ini merupakan potensi terjadinya konflik antar unit/departemen dalam suatu organisasi.
  • Perbedaan tujuan antar unit-unit organisasi. Tiap-tiap unit dalam organisasi mempunyai spesialisasi dalam fungsi, tugas, dan bidangnya. Perbedaan ini sering mengarah pada konflik minat antar unit tersebut. Misalnya, unit penjualan menginginkan harga yang relatif rendah dengan tujuan untuk lebih menarik konsumen, sementara unit produksi menginginkan harga yang tinggi dengan tujuan untuk memajukan perusahaan.
  • Interdependensi Tugas. Konflik terjadi karena adanya saling ketergantungan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Kelompok yang satu tidak dapat bekerja karena menunggu hasil kerja dari kelompok lainnya.
  • Perbedaan Nilai dan Persepsi. Suatu kelompok tertentu mempunyai persepsi yang negatif, karena merasa mendapat perlakuan yang tidak “adil”. Para manajer yang relatif muda memiliki presepsi bahwa mereka mendapat tugas-tugas yang cukup berat, rutin dan rumit, sedangkan para manajer senior mendapat tugas yang ringan dan sederhana.
  • Kekaburan Yurisdiksional. Konflik terjadi karena batas-batas aturan tidak jelas, yaitu adanya tanggung jawab yang tumpang tindih.
  • Masalah “status”. Konflik dapat terjadi karena suatu unit/departemen mencoba memperbaiki dan meningkatkan status, sedangkan unit/departemen yang lain menganggap sebagai sesuatu yang mengancam posisinya dalam status hirarki organisasi.
  • Hambatan Komunikasi. Hambatan komunikasi, baik dalam perencanaan, pengawasan, koordinasi bahkan kepemimpinan dapat menimbulkan konflik antar unit/ departemen.

Sumber Rangkuman Terlengkap : SarjanaEkonomi.Co.Id